PENDIDIKAN ANTITERORISME

Perhatian pemerintah selama ini terhadap terorisme menjadi sangat tinggi. Dalam dunia pendidikan setiap siswa diharapkan mempunyai sikap anti terorisme.


Selama ini terorisme beberapa kali terjadi di indonesia. Terorisme yang pertama kali mencuat di Indonesia adalah kasus di Bursa efek jakarta pada tahun 2000. Kejadian tersebut sungguh membuat masyarakat menjadi takut dan khawatir. Sampai kasus terakhir yang paling mengundang perhatian adalah kasus terorisme di thamrin Jakarta atau sering dikenal dengan kasus bom sarinah. 

Menurut kamus besar bahasa indonesia terorisme merupakan tindakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam mencapai tujuan (terutama politik). Teror merupakan usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sedangkan orang yang melakukan tindakan teror adalah teroris. 

Selama ini teroris sering dikaitkan dengan islam. Padahal islam tidak demikian. Islam mengajarkan cinta kasih kepada seluruh umat, karena islam adalah rahmatan lil alamin yang berarti islam adalah kasih bagi seluruh alam. Maka sebaiknya anak-anak dididik agar memiliki pandangan bahwa agama yang membuat seseorang menjadi teroris.

Perhatian pemerintah selama ini terhadap terorisme menjadi sangat tinggi. Dalam dunia pendidikan setiap siswa diharapkan mempunyai sikap anti terorisme. Pendidikan anti terorisme di sekolah adalah usaha pencegahan terorisme sejak dini. Karena selama ini banyak pelaku terorisme yang terbentuk dari usia sekolah.

Dalam dunia pendidikan sekolah tiap jenjang terdapat kompetensi inti (KI) 1 dan 2 yang memiliki tujuan agar siswa mampu bertoleransi antar sesama dan peduli sosial. KI 1 bertujuan agar setiap peserta didik mampu menjalankan nilai-nilai religius serta saling menghargai antar umat beragama. KI 2 bertujuan agar peserta didik memiliki sikap peduli sosial dan lingkungan seperti gotong royong, peduli lingkungan sosial dan alam, bertanggung jawab.KI tersebut berbeda tiap jenjangnya. Bila kedua kompetensi tersebut tersampaikan dan terlaksana dengan baik pada setiap mata pelajaran kemungkinan besar karakter anti terorisme juga akan terbentuk dan tidak akan ada lagi pemuda indonesia yang terjerumus ke dalam jurang terorisme.

Selain itu pendidikan karakter anti terorisme di lingkungan keluarga pun harus dilaksanakan. Banyak orangtua di kota-kota besar yang bersatus pekerja menitipkan anak-anaknya ke sekolah dan tidak mampu mendidik anak dengan baik di rumah karena sibuk akan pekerjaannya. Selain di kota besar pendidikan di rumah juga kurang terlaksana dengan baik di daerah-daerah lain, hal itu disebabkan karena pendidikan orang tua yang kurang. Bila anak-anak mendapat pendidikan anti terorisme di sekolah namun di lingkungan keluarga tidak ada pendidikan terhadap anti terorisme maka kemungkinan anak terjerumus ke jurang terorisme juga ada.

Anak-anak harus diajarkan untuk berpikir rasional dalam mengambil keputusan. Menurut Bagus (2002), rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris yaitu rationalims. Sedangakan menurut Edwards (1967) kata rasionalisme berakar dari bahasa Latin yaitu ratio yang berarti akal. Lacey (2000) berpandangan bahwa jika dilihat dari akar katanya rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegang bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Jadi, rasionalisme adalah sebuah paham yang berpandangan bahwa sumber pengatahuan satu-satunya yang paling benar adalah akal budi.

Jadi anak-anak harus diajak menggunakan pikirannya dalam mengambil keputusan. Tetapi selaku bangsa indonesia yang religius baiknya kita mengaitkan akal budi dengan dasar-dasar agama yang kita anut. Selain itu anak-anak baiknya diajarkan untuk memikirkan dan bertanggungjawab terhadap semua tindakan yang mereka lakukan. Untuk itu sebaiknya kita selaku warga negara Indonesia lebih peduli dengan masa depan penerus bangsa ini agar tidak terjerumus ke dalam terorisme.

oleh: Arif Hadi Broto, S.Pd

Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Jakarta

sumber gambar: https://www.lampost.co/berita-pendidikan-antiterorisme.html

sumber : 

Bagus, L. (2002). Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Edwards, P., (1967), The Encyclopedia of Philosophy Volume 7. New York: The Macmillan Company & The Free Press, 

Lacey,A.R.(2000). A Dictionary of Philosophy. New York: Routledge.

0

Like it? Share with your friends!

Arif Hadi Broto

Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Biologi UNJ

0 Comments

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals