Mencontoh Budaya Membaca Di Jepang Guna Membangun Perkembangan Pendidikan Di Indonesia yang Lebih Baik


      Jepang yang terkenal dengan sebutan negara sakura, menurut (Nikola, 2016) Jepang adalah negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia hingga saat ini. Bahkan Jepang menjadi salah satu negara di Asia dengan sistem pendidikan terbaik. Kesuksesannya dalam dunia pendidikan pasti karena sistem pendidikan bahkan peserta didiknya yang menekuni dunia pendidikan hingga bisa  mengantarkan Jepang menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik.

       Dalam arti yang sempit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar- dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol. Bagaimanapun luas sempitnya pengertian pendidikan, namun masalah pendidikan adalah merupakan masalah yang berhubungan langsung dengan hidup dan kehiupan manusia. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiannya, dalam membimbing, melatih,mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan ciri-ciri kemanusianya dan pendidikan formal disekolah hanya bagian kecil saja daripadanya. Tetapi merupakan inti dan bisa lepas kaitanya dengan proses pendidikan secara keseluruhannya.

       Jika kita lihat dari dasar aksiologis, ilmu pendidikan  adalah kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu kesuksesan seseorang itu terlihat dari ketekunannya dalam  membaca bisa dikatakan sebagai budaya membaca yang dimiliki oleh pribadi peserta didik. Inilah yang Jepang terapkan dimana budaya membaca masyarakatnya sangatlah kuat,kesibukkan orang-orang Jepang tidak menutup peluang mereka dalam membaca. Bahkan aktivitas  sepadat apapun masih mereka sempatkan untuk membaca, inilah bukti bahwa keterbatasan waktu  tidak menghalangi seseorang dalam membaca.

       Di Indonesia, budaya membaca di masyarakat relatif masih kurang. Bahkan waktu luang kebanyakkan remaja digunakan untuk bergaul dan bermain gadget. Dalam surat Al-Alaq ayat satu  mengatakan bahwa “Bacalah  dengan  menyebut nama Tuhanmu…”, ini adalah ayat yang ada di dalam Al-Qur’an, tapi jarang sekali di Indonesia yang relatif penduduknya adalah umat islam,  menyadari bahwa pentingnya kebiasaan membaca.

     Di Jepang masyarakatnya sudah mempunyai kebiasaan membaca, sedangkan di Indonesia  masyarakatnya mempunyai kebiasaan sulit menerapkan kebiasaan membaca. Ini adalah PR bagi parapendidik dan orang tua dalam membiasakan anak didiknya untuk membaca. Seseorang akan terbiasa  membaca jika ada kemauan dalam diri mereka, dan kemauan ini akan timbul jika ada motivasi dalam  diri setiap individu. Inilah kenapa ada istilah guru adalah motivator, karena setiap permasalahan  peserta didik, seorang guru harus terus membangun motivasi peserta didik dalam belajar.

          (Nikola, 2016) mengatakan bahwa kebiasaan membaca di Jepang sudah di mulai sejak anak  berada pada tingkat pendidikan paling dasar, dimana di setiap tingkat pendidikan 10-15 menitsebelum pelajaran inti dimulai, semua peserta didik diharuskan  membaca buku yang mereka sukai .  Berbeda di Indonesia dimana banyak sekolah  relatif tidak menerapkan budaya membaca buku di sekolah, masuk pagi hari peserta didik langsung disuguhkan pelajaran inti disekolahnya, tidak menerapkan budaya membaca sejak dini, sehingga sulit remaja indonesia memiliki kebiasaan  membaca.

      Motivasi saja tidak cukup untuk menerapkan budaya membaca kepada peserta didik, tetapi  dorongan dan penerapan langsung kepada peserta didik juga harus dilakukan guna tidak hanya  menyadarkan mereka sesaat saja, tetapi juga untuk seterusnya agar timbul yang namanya sebuah kesadaran dan kebiasaan. Tidak hanya menyadarkan peserta didik dalam membaca tetapi juga harus  ada kesadaran diri bagi para pendidik untuk memotivasi dan membimbing peserta didiknya untuk membaca.

       Strategi apa yang harus dilakukan seorang guru agar peserta didik memiliki motivasi  membaca? (Fattah, 2015) mengatakan bahwa mendidik dengan perbuatan dan amal lebih  mengenadi dalam jiwa, lebih  mudah dipahami dan dihafalnya, serta lebih memotivasi orang lain untuk  mengikuti dan mencontohnya dari pada mendidik dengan ucapan dan penjelasan, inilah metode yang  paling tampak dan agung yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

       Rasulullah SAW adalah sebaik-baiknya pendidik. Allah SWT berfirman “Dia-lah  yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul  di antara mereka, yang membacakan ayat -ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan  kepada  merekakitab  dan  hikmah.Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Q.S Al-Jumu’ah: 2). Inilah sebaik- baiknya  pendidik yang perlu dicontoh oleh pendidik di era modern saat ini. Mendidik dengan akhlak, tidak hanya  melaluimetode ceramah  dan penjelasan  saja. Dengan  akhlak akan lebih memotivasi peserta didik, dan dengan akhlak akan lebih mendorongpeserta didik  berpikir  positif.

       Jika dikaitkan dengan filsafat, sesungguhnya salah satu hal yang kita butuhkan untuk memahami berfilsafat pada peserta didik yaitu lewat pertanyaan dan keingintahuannya yang pada dasarnya hanyalah menyadari bahwa siapapun yang menguasai bahasa dan konsep-konsep yang diungkapkan sudah dapat berfilsafat. Dan budaya membaca sangat membantu peserta didik dalam menguasai bahasan dan konsep. Jika seorang guru menerapkan apa yang Rasulullah ajarkan, yaitu memberikan contoh  kepada peserta didik terutama dalam hal membaca, itu akan menjadi stimulus yang baik bagi peserta didik untuk mau memulai membaca buku mulai dari sekarang, tanpa harus terlalu memaksa peserta  didik dalam membaca tetapi lebih kepada menyadarkan hati mereka pentingnya membaca.

       Jika memang mencontoh budaya membaca di Jepang bisa membuatpendidikan di Indonesia lebih baik, kenapa  tidak? bahkan budaya membaca Jepang yang sederhana bisa mengantarkan Jepang menjadi salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik. Indonesiapun  bisa, hal itu bisa dimulai dari kita yaitu pendidik dan juga peserta didik pastinya. Mari mulai budayakan membaca J

Referensi:

Dickyandi,  N. (2016). Metode Mengajar Ala Tiongkok dan Jepang. Yogyakarta: Diva  Press.

Fattah, A.(2015). Mendidik dan Mengajar Ala Rasulullah. Bantul: Layar.

0

Like it? Share with your friends!

Shohibatul Aslamiah

Mahasiswa Magister Pendidikan Biologi 2019 Universitas Negeri Jakarta

0 Comments

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals