Ancaman Kepunahan Manusia Dalam Era Millenial: Analisis Pendekatan Filsafat Pendidikan


Oleh: Bagus Tito Wibisono

Mahasiswa Magister Pendidikan Biologi UNJ 2019

            Revolusi 4.0 pada era millennial telah memberikan sumbangsih besar bagi peradaban manusia. Prediksi Albert Einstein bahwa di masa yang akan datang manusia dapat menembus jarak dan waktu, mulai terbukti dan terungkap. Sistem siber-fisik dan internet untuk segalanya, mampu membuat manusia menembus dimensi batas. Misalnya kejadian di Eropa dapat diakses  sepersekian detik oleh penduduk Indonesia, sesaat setelah kejadian itu terjadi.

            Perubahan ini juga dirasakan dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Informasi-informasi baru seperti hasil penelitian, seminar ilmiah, dan hal lainnya terkait proses pengembangan ilmu pengetahuan, dapat dinikmati melintasi sekat geografis hanya dalam waktu yang sangat singkat. Dengan satu kali klik, segala sumber informasi dapat dikonsumsi dan menjadi sumber belajar yang mudah, murah, dan berkualitas.

            Seperti peradaban di masa-masa sebelumnya, tentunya perkembangan teknologi akan disertai dengan masalah-masalah baru yang perlu dipecahkan. Sebagai contoh, kepunahan beberapa jenis serangga saat revolusi industri di Eropa, revolusi 4.0 agaknya juga memberikan efek kepunahan khususnya di dunia pendidikan. Guru sebagai fasilitator dalam dunia pendidikan seakan terkalahkan oleh derasnya informasi yang bertebaran di internet. Big data yang sudah terangkum di sana dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan. Jadi bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti peran guru akan tergantikan –punah- dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

            Prof. Clayton Christensen pada tahun 2014 memberikan prediksi bahwa 50% dari seluruh universitas di Amerika Serikat akan bangkrut dalam 10 sampai 15 tahun ke depan. Hal ini disebabkan universitas tersebut terdisrupsi oleh inovasi-inovasi dibidang pendidikan, seperti pembelajaran online. Pembelajaran tidak melulu harus bertatap muka, bahkan tidak harus ada guru yang mengajarkan. Pembelajaran kini dapat terjadi dengan interaksi antara peserta didik dengan sistem artificial intelligence (AI). Hal ini sejalan dengan pernyataan World Economic Forum bahwa 42% pekerjaan manusia akan digantikan dengan robot dan AI pada tahun 2022.

            Disrupsi ini menjadi ‘ancaman’ atas eksistensi guru dalam dunia pendidikan. Guru sebagai manusia, dalam kajian filsafat, merupakan objek sekaligus menjadi subjek. Karena tanpa adanya proses berpikir tidak mungkin terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban di dunia ini. Semua teknologi yang dinikmati saat ini adalah produk dari proses konstruksi berpikir yang dilakukan manusia. Oleh sebab itu, menurut filsafat keberadaan atau eksistensi manusia harus tetap terjaga dalam perkembangan ilmu pengetahuan, yang disebarkan dan diajarkan melalui proses pendidikan.

            Pembelajaran virtual yang sudah viral digunakan harus memiliki batas-batas moralitas dan norma yang baik. Sebab jika tidak, teknologi hanya menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan namun menghasilkan manusia yang miskin adab dan karakter. Bahkan ketika menemukan guru yang terbatas pengetahuannya, bukan tidak mungkin guru tersebut akan diperlakukan kurang menyenangkan. Padahal menjadi hal yang sangat wajar apabila manusia (guru) memiliki kekurangan dan keterbatasan.

            Kasus-kasus seperti ini sudah banyak terjadi bahkan sebelum kedatangan revolusi 4.0. Dan akan menjadi semakin tinggi potensinya setelah kedatangannya. Dunia media sosial kita telah diwarnai dengan aktivitas peserta didik yang jauh dari etika sopan dan santun. Lengkap dengan dokumentasi yang sengaja dibuat untuk mendapatkan konten di dunia maya. Pada akhirnya penyalahgunaan teknologi ini menurunkan tingkat produktivitas peserta didik walaupun dengan tajuk moderenisasi.

            Manusia sebagai objek kajian utama dalam filsafat harus tetap terjaga eksistensinya. Eksistensi manusia sangat kompleks karena mencakup dimensi spiritual, emosional, intelektual, moral, dan juga dimensi fisikal. Oleh sebab itu, manusia tidak boleh -dan tentunya tidak akan kalah eksistensinya oleh teknologi. Oleh sebab itu, proses pendidikan harus tetap menghadirkan guru yang mampu mempertahankan eksistensi manusia, baik manusia itu adalah guru maupun siswa. Bukan justru menghadirkan manusia yang tenggelam dalam derasnya arus revolusi.

            Hal ini agaknya yang menjadikan Jepang mengusulkan revolusi 5.0 dalam konferensi internasional. Revolusi yang memanfaatkan teknologi namun tetap mengedepankan aspek humanistik. Artinya segala perkembangan teknologi dan pembangunan harus diiringi dengan perkembangan sumber daya manusia, demi kesejahteraan manusia. Kesejahteraan manusia ini kemudian harus melahirkan kesejahteraan bagi seluruh alam. Baik alam lingkungan biotik maupun abiotik.

            Filsafat sebagai pokok dalam pendidikan, mengajarkan manusia untuk bersikap lebih bijak dalam memandang sesuatu. Oleh sebab itu proses pendidikan yang melibatkan filsafat akan lebih dalam pembahasannya dan mampu menjadi dasar penyelarasan perkembangan teknologi. Sehingga kelak tiada yang anti-teknologi ataupun sebaliknya yang tenggelam dalam arus besar perkembangan teknologi. Keduanya mampu berjalan berdampingan dan saling menguatkan.

0

Like it? Share with your friends!

0 Comments

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals